![]() | |
| Foto: Anggota Komisi IV DPRD Provinsi Kalteng, Okki Maulana. |
Palangka Raya, Newsinkalteng.co.id — Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kalimantan Tengah (Kalteng) menyoroti aspek keselamatan relawan dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), menyusul meninggalnya Ketua Tim Serbu Api Kelurahan (TSAK) Palangka, Akhmad Rijani (54), saat musim karhutla.
Anggota Komisi IV DPRD Kalteng, Okki Maulana, mengatakan kondisi fisik dan kesehatan harus menjadi pertimbangan sebelum relawan diterjunkan langsung ke lokasi kebakaran.
“Menurut saya memang sebaiknya tidak. Kondisi kesehatan harus menjadi pertimbangan utama sebelum seseorang turun langsung menangani karhutla di lapangan,” ujar Okki, Selasa (15/9/2026).
Menurutnya, pemadaman karhutla bukan pekerjaan yang dapat dilakukan tanpa persiapan. Petugas maupun relawan harus menghadapi panas, asap pekat hingga medan yang sulit, sehingga dibutuhkan kemampuan teknis dan kesiapan fisik.
Okki juga menekankan pentingnya pelatihan bagi relawan sebelum terlibat dalam operasi pemadaman. Sejumlah prosedur keselamatan perlu dipahami agar tindakan di lapangan tidak justru membahayakan diri sendiri.
“Untuk mereka langsung menangani karhutla di lapangan, menurut saya memang harus ada pelatihan terlebih dahulu karena di lapangan ada SOP-SOP yang harus dipahami,” katanya.
Ia menjelaskan, kemampuan membaca arah angin dan pergerakan api menjadi salah satu hal penting dalam pemadaman. Penanganan karhutla juga tidak sekadar dilakukan dengan menyiram titik api.
“Harus bisa membaca arah angin, membaca arah api, sampai memotong kepala api. Itu bukan sekadar menyiram api,” tegasnya.
Karena itu, Okki menilai masyarakat maupun relawan yang belum memiliki kemampuan teknis sebaiknya tidak langsung ditempatkan di garis depan pemadaman.
“Kalau masyarakat sipil biasa belum tentu memahami prosedur-prosedur itu. Karena itu memang perlu pelatihan terlebih dahulu,” ucapnya.
Di sisi lain, relawan yang telah berusia lanjut menurutnya masih dapat mengambil peran dalam penanganan karhutla, terutama pada aspek koordinasi, pengawasan maupun memberikan pengalaman kepada anggota yang lebih muda.
“Mungkin masih bisa sebagai trainer atau penanggung jawab lapangan. Tetapi untuk turun langsung melakukan aksi pemadaman, menurut saya cukup berat bagi kelompok usia rentan,” tambahnya.
Okki juga mengingatkan agar kondisi kesehatan setiap relawan diperhatikan sebelum menjalankan tugas di lapangan. Menurutnya, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya mengurangi risiko keselamatan selama penanganan karhutla.
“Harus dicari tahu dulu latar belakang kesehatannya seperti apa. Karena kondisi di lapangan memang cukup berat dan berisiko,” lanjutnya.
Ia turut mengimbau masyarakat dan relawan meningkatkan kewaspadaan selama musim karhutla, termasuk menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan dan memperhatikan kondisi kesehatan ketika kualitas udara memburuk.
“Bukan hanya relawan, masyarakat umum juga harus aware. Kalau beraktivitas di luar ruangan, gunakan masker dan perhatikan kondisi kesehatan masing-masing,” pungkasnya. (red)
