DPRD Kalteng Ingatkan Pentingnya Hilirisasi dalam Pembangunan Industri Sapi Perah


Palangka Raya, Newsinkalteng.co.id – Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah (Pemprov Kalteng) kini tengah serius mengembangkan kawasan industri peternakan sapi perah. Program strategis ini diharapkan mampu mendukung peningkatan produksi susu nasional sekaligus menunjang program prioritas pemerintah pusat, salah satunya Makan Bergizi Gratis (MBG).

Tak hanya memperkuat ketahanan pangan berbasis protein hewani, kawasan industri sapi perah ini juga dirancang untuk membuka lapangan kerja baru dan menjadikan Kalteng sebagai salah satu sentra penghasil susu nasional.

Berdasarkan pemetaan awal, potensi lahan yang tersedia mencapai 18.050 hektare, terdiri dari 9.405 hektare di Kabupaten Barito Selatan dan 8.645 hektare di Barito Utara. Selain itu, terdapat usulan tambahan dari Kabupaten Murung Raya seluas 12.928 hektare serta Kotawaringin Timur seluas 5.061 hektare.

Namun, Wakil Ketua Komisi II DPRD Kalteng, Bambang Irawan, mengingatkan bahwa keberhasilan proyek ini tidak hanya ditentukan oleh luas lahan atau jumlah ternak. Menurutnya, kunci utama ada pada kesiapan sistem hilirisasi yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.

“Jangan hanya sibuk bicara jumlah sapi atau luas lahan. Yang lebih penting adalah produk akhirnya. Susu segar harus bisa diolah lebih lanjut, misalnya menjadi keju, susu bubuk, atau produk turunan lainnya. Hilirisasi itu wajib,” tegas Bambang, Selasa (05/08/2025).

Ia menilai, membangun peternakan tanpa dukungan infrastruktur pendukung berisiko besar. Tanpa pabrik pengolahan, teknologi sterilisasi, dan sistem distribusi yang memadai, hasil produksi bisa sia-sia.

“Susu adalah produk bernutrisi tinggi dan sangat mudah rusak. Kalau tidak diproses dengan higienis dan teknologi tepat, bukan hanya tidak bisa dijual, tapi juga merugikan peternak serta daerah,” ujarnya.

Bambang juga menekankan pentingnya keterlibatan pelaku rantai pasok program MBG dalam ekosistem industri ini. Dengan begitu, Kalteng bisa mengurangi ketergantungan terhadap impor dan membangun kemandirian daerah dalam produksi susu nasional.

“Kalau kita bisa produksi sendiri, kita tidak lagi tergantung dari luar. Tapi semua harus dipersiapkan sejak awal, mulai dari lahan, produksi, hingga pengolahan,” jelasnya.

Politisi ini mengingatkan agar Kalteng tidak hanya menjadi penyedia bahan mentah, seperti yang selama ini terjadi pada komoditas kayu log. “Kalau tidak ada hilirisasi, kita hanya menyumbang lahan tanpa menikmati nilai tambah. Jangan sampai sejarah terulang,” tandasnya.

Ia menegasan bahwa hilirisasi harus menjadi fondasi utama pembangunan industri sapi perah di Kalteng. “Kalau semua proses terintegrasi, hasilnya bukan hanya untuk ketahanan pangan, tapi juga memberi keuntungan ekonomi besar bagi daerah. Intinya, hilirisasi itu wajib,” pungkas Bambang.[Red]

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama